SELENGKUNG BULAN

Pagi hari yang disepuh kicau burung-burung juga hangat mentari dan semilir angin yang bertiup setengah hati. Ibu Bening ke luar dari rumahnya, berjalan menyusuri gang sempit. Sampailah di sebuah jalan raya, menaiki angkot.   Dalam angkot, paras Ibu Bening nampak tak sesegar udara di pagi ini. Mungkin pikirannya tengah mengembara ke ruang-ruang yang tak terduga dalam peta; “Aku harus menjadi contoh yang baik,” batinnya. Angkot terus melaju, sesekali menaik-turunkan penumpang.  Turun dari angkot, dengan langkah lunglai, Ibu Bening memasuki gerbang sekolah. Seterusnya memasuki ruang guru sebelum jadwal pelajaran dimulai. Kebetulan, hari ini Ibu Bening giliran jam awal dalam mengajar. Ibu Bening mengajar dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Gawainya berdering, semula Ibu Bening ragu untuk mengangkatnya, sebab nomor yang menghubunginnya tidak dikenalnya.   Gawainya terus berdering. Pada dering yang ke tiga kalinya, Ibu Bening mengangkatnya; “Assalamu’alaikum…”  “Wa’alaikumussalam…”  “Iya… dengan siapa?”  “Maaf mengganggu, apa betul dengan Ibu Bening?”   “Iya, betul… dengan siapa?”  “Kami dari pihak penerbit… oh ya, saya Agi, Bu…”  “Penerbit? Penerbit yang menerbitkan antologi puisi saya kah?”  “Oh… bukan, kami dari penerbit Kalam Bu, bermaksud ingin kerjasama,”  “Kerjasama bagaimana maksudnya?”  “Kami sudah membaca antologi puisi tunggal Ibu, di sana kami membaca juga profesi Ibu sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia,”  “Iya, betul…”  “Nah, ketertarikan kami dalam hal ini, ingin menerbitkan puisi-puisi karya siswa. Tentunya puisi-puisi murid Ibu.”  “Tapi saya hanya mengajar biasa, tidak mengajarkan khusus untuk pembuatan puisi pada murid-murid saya.” 

“Iya, dalam hal ini kami sangat paham, Bu .…”  “Paham bagaimana?”  “Sangat jarang sekali, ada seorang tenaga pendidik yang mengajarkan pelajarannya khususnya pelajaran puisi tanpa ada karyanya sendiri …. Di sinilah ketertarikan kami.”  “Jadi maksud Anda?”  “Kami yakin bahwa Ibu mampu memberikan workshop menulis puisi pada siswa dengan baik. Nah dari hasil workshop tersebut, hasil puisinya akan kami bukukan. Bagaimana?”  “Tapi belum sampai pada materi pembelajaran puisi.”  “Iya, itu pun kami paham, Bu. Maksud kami Ibu mengadakan workshop menulis puisinya sehabis jam pelajaran selesai.”  “Anak-anak didik saya sehabis jam pelajaran usai, melanjutkan aktivitasnya di pesantren.”  “Kami pikir itu bisa diatur, dengan cara Ibu dan pihak kami berbicara pada pihakpihak terkait.”  “Maksudnya?”  “Ya…, kita berbicara pada Ketua Yayasan, Kepala Madrasah dan Pimpinan Pondok Pesantren, toh ini bukan kegiatan yang mubazir sifatnya.”  “Kalau begitu, sebaiknya Bapak datang dulu ke sini.”  “Kebetulan kami sudah ada di ruangan Kepala Madrasah Bu. Apa Ibu sudah sampai sekolah?”  “Oh …, saya ada di ruang guru.”  “Jika tidak mengganggu waktunya, bisakah Ibu kemari?”  “Iya …, tentu saja. Saya ke sana sekarang.”  “Baik, kami tunggu Bu. Assalamu’alaikum.”  ‘Wa’alaikumussalam….”  Ibu Bening bangkit dari duduknya, seterusnya menuju ruangan Kepala Madrasah. Mengetuk pintu. Memasuki ruangan KAMAD  setelah dipersilakan.  “Jadi begini, Ibu Bening …. Pihak penerbit sudah berbicara dengan Bapak …, dan sebelumnya sudah pula berbicara dengan pihak Yayasan juga Pimpinan Pondok Pesantren.  Pada  dasarnya  tidak  keberatan.  K Bening,”  ucap Kamad pada  Ibu Bening. ini  tinggal  menunggu  kesanggupan  dari  Ibu “Kalau boleh jujur, sebenarnya  saya  bingung, Pak.” “Bingung kenapa?” “Menulis  puisi  memang  bisa  diajarkan  dan  ada  teorinya,  meski  demikian  tidak bisa  seluruh  siswa  mampu sastra  sekali  pun, Pak.” menerapkannya  ke  dalam  praktik  …,  bahkan  lulusan  sarjana “Oh… begitu ya. Bagaimana  dari  pak Agi, apa  ada  solusi?” “Kalau  dari  kami,  begini  Pak,  Bu.  Memang  setiap  orang  yang  menguasai  atau mengetahui  juga  memahami  teori  menulis  pu isi  tidak  semuanya  bisa  mempraktikkannya, tetapi  setidaknya  dari  seribu  siswa  pasti  ada  yang  mampu,  katakanlah  kalau  yang  mampu itu lima  puluh siswa  dan  itu sudah cukup  menjadi  antologi  puisi  bersama, Pak, Bu ….” “Terus  kalau dengan kualitas?”  tanya  Ibu  B ening. “Penerbitan  antologi  puisi  bersama  ini  sifatnya  sebagai  momentum  pembelajaran, Bu.  Artinya  kami  dari  pihak  penerbit  memberikan  kesempatan  pada  siswa  dan  siswi  yang mempunyai  bakat  dalam  bidang sastra  puisi  ….” “Sebagai  batu loncatan maksudnya?” “ Iya  …,  itu  ….  Meski  pada  akhirnya  tidak  semua  yang  berbakat  akan  menjadi penyair.  Tetapi  di  sini  kami  punya  tujuan  sebagai  pembelajaran  dari  pembentukan karakter, Bu.” “Iya…  Bu  Bening.  Bukankah  kecakapan  berbahasa  juga  sebagai  salah  satu penunjang pemben “Tetapi tukan karakter?”  ucap  Kamad, menimpali. dalam  mengubah  pola  pikir  ( mindset )  masyarakat,  dalam  hal  ini  siswa khususnya,  dan  membentuk  mentalitas  yang  kuat  bukanlah  hal  yang  terbilang  mudah, tetapi  bukan  berarti  tidak  bisa  dilakukan.” “Itulah  tujuan  kami,  kita  mencoba,  Bu  …. Karena  ini  adalah  persoalan kebiasaan  yang  telah  menjelma  menjadi  budaya,  maka  perlu  perubahan  secara  cepat dan  bersifat  menyeluruh  dilakukannya  pendidikan  karakter,”  jawab “Tambahan  pak  Agi  ….  Struktur  mental Agi . manusia  terbangun  atas  tiga  hal. Pertama,  cara  berpikir  ( cara  bersikap  ( mindset );  kedua,  cara  meyakini  ( behavioral  approach transendental  value );  ketiga, ).  Dari  tiga  tahapan  inilah  mentalitas  baik  terwujud  dalam bentuk prilaku. Amanah pembangunan dan penguatan karakter mental. Salah satunya bisa terlihat dalam karya sastra dari regenerasi bangsa, bukan begitu?”  “Iya. Tepat sekali, Pak. Pendidikan karakter akan menghasilkan manusiamanusia yang berkualitas dan unggul. Manusia-manusia yang unggul akan membawa Indonesia makin maju dan dapat menunjang pembangunan nasional. Ciri suatu bangsa yang unggul, antara lain: memiliki tujuan yang produktif, cepat dan kreatif, juga memiliki kesadaran sikap optimism,” tandas Agi.  “Bagaimana, Bu Bening, siap?”  “Tugas ini memang berat Pak, tapi akan saya coba.”  “Alhamdulillah…,” ucap Kamad dan Agi, kompak. ***  Di rumah, Ibu Bening  nampak merenung atas percakapan tadi pagi di sekolah dengan pak Agi, Kamad dan dirinya.  “Ya, Rabbi…, apakah ini jawaban dari-Mu atas keinginan hamba untuk bisa lebih memberikan contoh yang baik pada murid-murid hamba, dalam aplikasi dari hasil belajar?” batinnya disepuh linang.   ***  Setelah semalaman menyiapkan materi buat workshop penulisan puisi, Ibu Bening terlihat duduk di bangku kerjanya, ruang guru. Ketika Ibu Bening tengah asyik membaca ulang materi yang dibuatnya, datang Ibu Rina dan pak Dadang.  “Bu Bening ….”  “Iya? Ada apa?”  “Kenapa sih selalu Bu Bening yang terpilih dalam mewakili wajah sekolah?” tanya bu Rini.  “Iya. Pasti ada main ya dengan pak Kamad?” timpal Dadang.  Mendengar pertanyaan seperti itu tentu saja Ibu Bening tak bisa menjawabnya dengan segera, selain mangkel. “Mungkin ini sudah jadi suratan-Nya?” disepuh senyumnya. Senyum selengkung bulan sabit.  “Tapi kan guru yang berprestasi di sini bukan Ibu Bening saja. Mereka tidak pernah terpilih untuk mewakili wajah sekolah. Betul gak Rin?” tanya Dadang yang dilempar sambung pada Rina. 

“Iya,  betul.  Pasti  ada  apa meninggalkan  Ibu  Bening.apanya,”  pungkas  Rina.  Seterusnya  menerka *** Detik  jam  yang  mematangkan  hari.  Harihari  lewat  dengan  ragam  cuaca  dan seprofesinya musimnya.  Dengan  perasaan  batin  yang  tidak  mengenakkan  atas  rekan yang  menjadi  momok  rumpi  di  ruang  guru  dan  kantin  Ibu  Bening  terus  melangkah, mewujudkan  antologi  puisi  bersama  karya  siswa,  hasil  dari  workshop  dengan  judul ‘ Embun’, yang  diterbitkan  oleh  penerbit Beberapa  minggu  dari Kalam. peluncuran  antologi  puisi  bersama  karya  siswa;  antologi buku  puisi  karya  siswa  tersebut  menjadi  contoh  kongkret  bagi  guru  juga  bagi  sekolah-- sekolah  lainnya,  bagaimana  seorang  guru  mampu  memberikan  asupan  dengan  baik pada  murid muridnya  sampai  praktik  dari hasil  belajar  baik  di  ruang  kelas  dan  ekstra. Antologi  tersebut  pengaruhnya  sangat  besar,  mampu  melahirkan  keputusan  dari Dikbud  setempat,  mewajibkan  adanya  pembuatan  antologi  sastra  karya  siswa  di  setiap sekolah  di  kota  tersebut. Detik  jam  bergeser  lagi. Ibu  Bening  kembali  melangkah  dalam  ragam  aktivitas di  saban  ruang  dan  peristiwa  dengan  tak  lupa  melepas  senyumannya;  senyum selengkung  bulan  sabit  yang  mampu  menepis  ragam  tanggapan  miring  dari  rekan  kerja seprofesinya  di  sekolah  itu. []

BIOGRAFI

Eneng  Sri  Supriatin,  M.Pd., Zahra memiliki  nama  pena Bening  Kusumaningtiyas  Az Ia  lahir  di  Tasikmalaya  pada  18  Desember  1980.  Alumnus  S Tasikmalaya  (UNSIL) Tasikmalaya,  S-- 1  Universitas sajak  dan  cerpen  termuat  di  surat 2  Institut  Pendidikan  Indonesia  (  IPI)  Garut.  Karya Kabar  Priangan Rakyat di  rubri k Khazanah. di  rubrik  Budaya  dan  HU Pikiran Adapun  Antologi  tunggal  Kalam  dari  Arafah  (Penerbit  Manggu),  Setaman  Rasa  Covid 19  (KPPJB),  Kompilasi  Esai  Mengeja  Diri  di  Masa  Pandemi  (  Nizam),  Keranda  Misteri (Guepedia).  Lalu  Antologi  bersama  yang  sudah  terbit  sekitar  30  salah  satunya  “Kam pung Bulan”  (2012),  “Indonesia  dalam  Titik  13”,  dan “Antologi  Puisi  100  Penulis  Perempuan KPPI  (2014),  Bunga  Rampai  Puisi ara  keMeski  Serupa  Serbet (ebook)  penerbit  Komunitas Menulis  Pontang  Tirtayasa,  Juni  2018,  Hijrah  1&2  (LKSN)  (2021),  Pijar  (SIP)  (2021). Ju 2  penulis  Esai  Anugerah  Surya Asy  Syahid  KHZ  Musthafa a. Award (2016). Ia  juga  bermain film Perjuangan (2017).  Belajar  menulis  secara  tidak  langsung  dari  Kang  Acep Zamzam  Noor  dan  Soni  Farid  Maulana.  Pengurus  KPPJB  dan  Pembina  Literasi  MAN  1 Tasikmalay Ia  mengajar  Bahasa  dan  Sastra  Indonesia  di  Madrasah  Aliyah  Negeri  (MAN)  1 Sukamanah,  Singaparna,  Tasikmalaya.  Prestasi  sebagai  guru  berprestasi  tingkat Kabupaten  Tasikmalaya  pada  2017.  Moto  hidup: beningkan  hati  jernihkan pikiran. Email: enengsrisupriatin@gmail.com . HP  081224976188.